RENDAHNYA RESILIENSI REMAJA KORBAN PERCERAIAN ORANG TUA MELALUI KONSELING INDIVIDUAL PENDEKATAN REALITA
Keywords:
Konseling Realita, Resiliensi, PerceraianAbstract
Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan jenis studi kasus dimana dalam pengumpulan data peneliti menggunakan wawancara dan observasi. Wawancara ditujukan kepada remaja korban perceraian orangtua, ibu, kakak dan sahabat korban. Serta observasi yang dilakukan adalah observasi kegiatan korban sehari-hari. Selanjutnya pengecekan kebasahan data, peneliti menggunakan triangulasi dengan mengambil beberapa sumber data lalu membandingkan. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebelum dan sesudah melakukan penelitian terdapat peningkatan resiliensi korban, ditandai dengan perubahan perilakunya. Sebelum diberikan treatment berupa Konseling Individual dengan Pendekatan Realita remaja memiliki resiliensi rendah. Dilihat dari ke tujuh aspek resilensi hanya satu indikator berada pada kategori sedang yaitu analisis penyebab masalah, keenam aspek lainnya berada pada kategori rendah yaitu regulasi emosi, pengendalian impuls, efikasi diri, optimisme, empati dan Reaching Out. Setelah diberikan perlakuan berupa konseling individu melalui pendekatan realita menunjukan hasil pada kategori tinggi sementara apabila dilihat berdasarkan tujuh indikator resilensi yaitu regulasi emosi, pengendalian impuls, optimisme, analisis penyebab masalah, efikasi diri, dan Reaching Out semuanya berada pada kategori tinggi. Hal ini menunjukan konseling realita terbukti berpengaruh efektif dalam mengubah resilensi remaja korban perceraian orang tua.
